Rabu, November 25

3 Guru Telanjang Keliling Pasar


dahulu dilumuri cat dan memakai anting-anting dari rentengan koin rupiah yang dilubangi.

Cerita ini mengingatkan kasus serupa, tapi tak sama, yakni pencari kerja yang ditato wajahnya oleh penipu di Bojonegoro, beberapa bulan lalu.

Penggendam yang mengaku-ngaku sebagai Asisten I Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Mojokerto itu mengatakan kepada para korbannya bahwa ritual bugil itu untuk membuang sial (atau tolak bala) Bupati Mojokerto H Suwandi yang bakal maju lagi dalam Pilkada 2010.

Setidaknya delapan orang telah jadi korban, dan semuanya PNS dengan profesi guru di wilayah Kabupaten Mojokerto. Namun, hanya tiga orang yang telanjur sampai bugil dan berkeliling pasar. Adapun lima guru lainnya belum sempat bugil karena sudah keburu sadar. Semua korban adalah lelaki.

AR, salah satu korban yang juga guru sebuah SDN di wilayah Mojokerto, menuturkan, pada Sabtu (21/11) sekitar pukul 21.00, dirinya menerima telepon dari seorang pria. Pria itu mengaku sebagai Asisten I Bidang Pemerintahan Sekkab Mojokerto Akh Djazuli.

Si Akh Djazuli itu mengatakan bahwa dirinya diminta "Bupati Mojokerto" untuk memerintahkan AR agar telanjang dan keliling Pasar Tandjung Anyar, Kota Mojokerto, pada Minggu mulai pukul 19.00 hingga 21.00. Alasannya, itu sebagai ritual tolak bala sekaligus wujud rasa syukur dari para guru atas rekomendasi DPP PDI-P kepada Bupati Suwandi untuk maju lagi dalam pilkada Mojokerto 2010.

“Penelepon juga meminta saya untuk melumuri tubuh dengan cat hitam dan memakai anting dari koin-koin Rp 100 yang direnteng saat bugil,” cerita AR kepada Surya.

Berdasarkan penelusuran Surya, ada juga korban yang diminta si penggendam untuk memakai anting dari rentengan lembaran uang ribuan. “Penelepon meyakinkan saya bahwa saya orang yang pas untuk melakukan ritual tersebut. Dia bilang, orang yang dipilih melakukan ritual ini hanyalah yang berbadan tegap dan tinggi. Dia sempat telepon lagi malam hari untuk kembali meyakinkan saya,” tutur AR, guru olahraga.

Bersama seorang rekannya yang senasib, kemarin AR menanyakan langsung kebenaran perintah lewat telepon itu kepada Asisten I Sekkab Mojokerto Akh Djazuli. “Jelas penipuan. Ini sangat sensitif karena mencatut nama Pak Bupati yang bakal maju lagi dalam pilkada mendatang,” kata Akh Djazuli seusai menerima dua guru korban penipuan itu, Selasa pagi di pendopo kabupaten.

AR tidak habis mengerti mengapa pesan si penelepon itu begitu mengiang-ngiang di telinganya dan dirinya juga patuh saja. Waktu itu, yang terlintas di pikiran AR adalah bahwa karena si penelepon mengaku sebagai Asisten I Sekkab, pastilah itu perintah resmi dan bertujuan baik. Apalagi, Akh Djazuli adalah mantan kepala dinas pendidikan sehingga dianggapnya peduli kepada guru.

Oleh karena itu, meskipun istrinya sempat berusaha mencegah aksi aneh itu, AR tak banyak menggubris. Esok harinya, Minggu sekitar pukul 17.00, AR sudah berada di Pasar Tandjung Anyar yang berada di tengah Kota Mojokerto.

0 komentar:

Catat Ulasan

Share |

Buku Cerita Bawean