This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Memaparkan catatan dengan label Berita HANKAM. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Berita HANKAM. Papar semua catatan

Isnin, Disember 28

Pelanggaran Wilayah Udara Indonesia Masih Terjadi

Monday, December 28, 2009


Casa U-621 TNI AL diescort oleh satu buah helikopter jenis Sea Hawk, ketika mendeteksi konvoi kapal induk US Navy di perairan Natuna yang terdiri dari 1 Kapal induk USS Ronald Reagan CVN 76, satu kapal suplai dan dua kapal frigate pada 24 Juni 2009. (Foto: puspenerbal)

27 Desember 2009, Kuta, Bali -- Komandan Pangkalan Udara TNI-AU Ngurah Rai, Letnan Kolonel Penerbang Aldrin P Mongan, menyatakan, pelanggaran wilayah dan koridir udara di Indonesia Timur melalui cakupan radar Ngurah Rai masih terjadi.

"Saya tidak berwenang merinci jumlah, jenis, dan berbagai hal lain terkait itu. Tetapi yang jelas, pelanggaran itu masih terjadi dan kami terus mewaspadainya sesuai perintah komando atas," katanya, kepada ANTARA, di Kawasan Kuta, Bali, Minggu petang.

Menurut Mongan, sistem radar terpadu antara milik instansi pemerintah sipil dan militer selalu memberi peringatan terkini terkait lalu-lintas udara yang dilakukan melalui Kendali Lalu-lintas Udara (ATC) Ngurah Rai, Bali.

Preseden positif kemampuan daya tangkal dan peringatan TNI-AU atas pelanggaran udara oleh wahana tempur negara asing yang paling terkenal saat ini, katanya, adalah Peristiwa Bawean, pada 2003 lalu.

"Inilah bukti kerja sama baik antara instansi sipil dan militer. Pada awalnya, satu pesawat terbang sipil kita memergoki secara visual kehadiran pesawat tempur tak dikenal, kemudian kapten pilotnya mengontak ATC Djuanda tentang hal itu," kata penerbang C-130 Herkules itu.

Dari ATC Djuanda, katanya, langsung hal itu diinfokan ke pihak TNI-AU dan jajarannya, di antaranya adalah Komando Sektor Udara IV yang bertanggung jawab terhadap pengamatan udara di Indonesia Timur dan Tenggara.

"Dari situ keluar perintah untuk mencegat dan memeriksa identitas pesawat tempur tak dikenal itu. Tugas itu bisa dilaksanakan secara baik dan akhirnya pesawat tempur itu bisa mematuhi peraturan udara nasional kita, di antaranya memberitahu identitas dan maksud penerbangannya," katanya.

Penerbangan militer mancanegara di wilayah dan koridor udara nasional Indonesia, katanya, tidak dilarang. "Sepanjang untuk kepentingan penerbangan damai dan meminta ijin melintas kepada pemegang otoritas hal ini di pihak kita. Kalau tidak demikian maka bisa dikatakan sebagai pelanggaran wilayah udara nasional," kata Mongan.

Wilayah udara Bali yang diawasi ATC Ngurah Rai, katanya, memiliki karakteristik khas dalam hal frekuensi dan jenis penerbangan internasionalnya. Sepanjang hari, aktivitas penerbangan yang mendarat dan lepas landas dari Ngurah Rai mencapai ratusan pergerakan.

"Yang ideal, sekali lagi ini yang ideal, kami memiliki wilayah pangkalan udara militer tersendiri karena ini adalah aerodrome aktif yang juga penting bagi pertahanan nasional. Khusus untuk mengantisipasi gangguan keamanan aerodrome ini pada akhir tahun, satu `flight` Skuadron Pasukan Khas 464 TNI-AU di-BKO-kan ke sini," katanya.

Kekuatan satu "flight" atau kompi yang berpangkalan di Pangkalan Udara Utama Abdurrahman Saleh, Malang, Jawa Timur itu, katanya, merupakan satu ukuran kekuatan yang cukup ideal untuk mengantisipasi gangguan keamanan Bandar Udara Ngurah Rai yang vital bagi penerbangan nasional.

Sabtu, November 14

Korsel Hibahkan 10 Tank Amfibi Buatan AS untuk RI


14 November 2009, Jakarta -- Mulai Jumat (13/11), sepuluh tank amfibi dengan jenis landing vehicle track-7A1 berangkat dari Korea Selatan. Tank buatan Amerika Serikat tahun 1983 itu merupakan hibah.

Hal itu disampaikan Direktur Jenderal Sarana Pertahanan Departemen Pertahanan Erris Herryanto di Jakarta.

Tank amfibi ini akan digunakan Marinir. Menurut Erris, tank ini diharapkan bisa mengisi kekurangan alat utama sistem persenjataan yang selama ini menghadapi kendala anggaran. ”Tiba di Jakarta sekitar tanggal 6 atau 7 Desember,” katanya.

Menurut Erris, landing vehicle track (LVT)-7A1 ini sama kelasnya dengan tank amfibi PT 76 dan tank amfibi BTR 60 yang sudah dimiliki Indonesia. Diharapkan, masih ada pengiriman LVT-7A1 lagi. Kerja sama ini berawal dari pembicaraan tahun 2007. Saat itu Korea Selatan telah menawarkan LVT-7A1 kepada Indonesia. Namun, karena menunggu izin dari AS, kesepakatan ini baru bisa diwujudkan. ”Perjanjiannya sebenarnya ada 35, tetapi belum ada kejelasan. Ini gelombang pertama. Nanti kalau sudah datang, kita lobi lagi,” kata Erris.

Erris menambahkan, dengan hibah tersebut pihak TNI AL akan mengirimkan 15 personel untuk mengikuti Maintenance dan Operational Training yang terdiri dari Maintenance Training sebanyak 5 personel selama 1 bulan dan 10 personel operasional training selama 1 minggu.

"15 Personel TNI AL dari Korp Marinir direncanakan berangkat ke Soel 21 November 2009," ungkapnya.

Tank amfibi LVT-7A1 merupakan hasil modifikasi dari jenis LVT yang dijuluki Alligator. Tank yang hingga kini masih digunakan Marinir Korea Selatan sama dengan yang digunakan dalam serangan ke Falkland, Perang Teluk, dan Perang Irak.

Korea Selatan juga memberikan satu paket suku cadang. LVT-7A1 beratnya 22,8 ton, panjang 7,94 meter, lebar 3,27 meter, dan tinggi 3,26 meter.

Ranpur LVT7A1 saat ini berada dibawah Komando Divisi 1 LVT7A1 RDK Marine Coprs di Pohang Korea Selatan.

Kendaraan ini juga bisa berputar 360 derajat saat berada di dalam air. ”Yang diberikan kepada kita tanpa persenjataan,” kata Erris.

10 ranpur itu nanti akan dibawa dengan menggunakan kapal jenis LPH Dokdo dan dikawal oleh satu Frigat dari Angkatan laut Korea Selatan.

Pernah tenggelam

Dibandingkan dengan PT 76 dan BTR 60 yang diproduksi Rusia tahun 1950-an, LVT-7A1 buatan AS ini jauh lebih baru. Bulan Februari 2008, satu unit BTR 60 tenggelam di Situbondo, Jawa Timur. Saat itu latihan puncak TNI AL ”Armada Jaya” XXVII.

TNI Angkatan Laut juga tengah menunggu 17 tank amfibi BMP 3F yang dipesan dari Rusia. BMP 3F adalah kendaraan tempur amfibi infanteri yang khusus dirancang untuk operasi di laut. BMP 3F dirancang dengan keterapungan di laut, termasuk untuk ketepatannya menembak.

”Kita sudah tanda tangan dan mendapat kesepakatan pembelian dari Rusia untuk kendaraan tempur dengan persenjataan ini,” ungkap Erris

Rabu, Oktober 28

TNI AU bakal Bangun Skuadron Tempur di Medan

Wednesday, October 28, 2009



28 Oktober 2009, Medan -- Markas Besar TNI Angkatan Udara berencana akan mendirikan sebuah skuadron tempur yang beroperasi di Pangkalan Udara (Lanud) Medan.

Komandan Lanud Medan, Kolonel Pnb Tata Endrataka, di Medan, Rabu (28/10), mengatakan, pihaknya telah melakukan berbagai persiapan untuk merealisasikan pendirian skuadron tempur itu. Bahkan, kata dia, Lanud Medan juga dinilai telah siap untuk dijadikan lokasi pendirian skuadron tempur tersebut.

Pihaknya juga sudah memperhitungkan rencana itu dengan kemungkinan perpindahan Lanud Medan terkait akan dipindahkannya Bandara Udara Polonia Medan. "Adanya rencana perpindahan itu akan dibahas sesuai kondisi," kata Tata.

Ia mengatakan, rencana pendirian skuadron tempur itu dilakukan untuk semakin memperkuat pertahanan Indonesia, khususnya dari segi pertahanan udara. Namun, pihaknya belum mengetahui secara pasti mengenai waktu realisasi rencana pendirian skuadron tempur di Medan.

Jika dilihat dari kondisi keuangan negara, kemungkinan besar rencana pendirian skuadron tempur itu baru dapat dilakukan pada 2014. "Realisasinya sangat tergantung dari kondisi keuangan negara," kata Tata, yang juga mantan Dosen Sesko.

Share |

Buku Cerita Bawean