This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Ahad, Oktober 7

Misteri Hajar Aswad

Musim haji telah tiba. Umat muslim dari segala penjuru dunia menuju ke satu titik, Baitullahatau tanah suci. Salat langsung di depan Ka'bah, berkesempatan mencium batu Hajar Aswad yang tertanam di dindingnya, di sudut selatan, sebelah kiri pintu bangunan yang menjadi kiblat. Mungkin banyak yang tidak tahu, ada banyak rahasia yang belum terjawab seputar Hajar Aswad. Misteri yang terbesar adalah, ke mana perginya pecahan batu berwarna hitam yang berbau harum itu. Awalnya, Hajar Aswad adalah sebuah batu yang utuh berdiameter sekitar 30 centimeter. Namun, akibat berbagai peristiwa, ia pecah dan menyisakan delapan fragmen batuan. Pecahan-pecahan itulah yang kemudian disatukan dengan bingkai perak, lalu dipasangkan ke tempat asalnya. "Yang tersisa bukan batu utuh seperti saat Nabi Ibrahim membangun Ka'bah, namun hanya beberapa fragmen," kata Dr Ahmad Moraei, profesor dari Umm al-Qura University, seperti dimuat situs Al Arabiya. Ada banyak peristiwa, alami juga ulah manusia yang berperan memecah Hajar Aswad. Aksi kriminal yang paling terkenal adalah saat Bani Qarmati tega menginvasi dan merampok tempat suci itu. Mereka menguasai batu suci itu selama 22 tahun, dimulai tahun 317 Hijriyah. Lalu, akhirnya sejumlah fragmen dipulangkan ke tempat asalnya, namun sisanya menghilang. "Bani Qarmati yang dipimpin Ahmad al-Qarmati datang ke tanah suci dan menginvasi Ka'bah. Mereka membunuh lebih dari 70.000 orang hari itu. Ahmad dengan pongah bahkan berkata, 'Allah memberi kehidupan pada manusia, dan aku yang akan mengambilnya'. Mereka membawa Hajar Aswad ke Kota Ahsa, selama 12 tahun," kata Dr Moraei. Sebagian umat muslim meyakini, batu itu berasal dari surga yang diturunkan ke bumi saat Nabi Ibrahim ingin menandai tempat di mana para jamaah mengelilingi Ka'bah sebagai bagian dari ritual "Tawaf". Hajar Aswad menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Ka'bah, menandai  awal dan akhir dari ritual "Tawaf". Ia adalah salah satu situs suci Islam yang paling dilihat, disentuh, dan dicium. Bahkan sebelum peradaban Islam, ia telah menjadi pilar suci bagi masyarakat Arab.Misteri jenis batuSalah satu yang masih menjadi perdebatan para ilmuwan adalah, jenis batuan Hajar Aswad. Ada yang menyebutnya sebagai batu basalt, batu agate atau akik, kaca alami, atau yang paling populer, meteorit. Seperti dimuat Wikipedia, adalah Paul Partsch, kurator koleksi mineral kekaisaran Austria-Hungaria yang menerbitkan catatan sejarah komperehensif tentang Hajar Aswad pada tahun 1857. Ia condong pada dugaan, itu adalah meteorit. Sementara pada tahun 1974, Robert Dietz dan John McHone mengajukan pendapat, Hajar Aswad adalah batu akik atau agate. Mereka mendasarkan hiopotesisnya pada atribut fisik dan laporan ahli geologi Arab.Salah satu kunci penting adalah laporan tentang seputar pemulihan Hajar Aswad paca mengalami kejadian pencurian pada tahun 951 Masehi. Ada laporan, bahwa batu suci itu bisa mengapung, jika itu akurat, maka itu akan menepis dugaan bahwa Hajar Aswad adalah batu basalt atau meteorit, sebaliknya daftar dugaan bertambah, ia adalah kaca atau sejenis batu apung.Pada tahun 1980, Elsebeth Thomsen dari University of Copenhagen mengajukan hipotesis, Hajar Aswad berasal dari fragmen kaca atau impactite dari dampak meteorit yang jatuh sekitar 6.000 tahun lalu di Wabar, situs di Gurun Rub' al Khali, sekitar 1.100 kilometer di timur Mekah. Namun, hipotesis ini dibantah dengan temuan terbaru tahun 2004 yang menduga, usia kawah Wabar sekitar 200-300 tahun. Yang tak ketinggalan, adalah misteri, apa yang membuat Hajar Aswad tetap berbau harum selama ribuan tahun?

Selasa, Julai 31

software MEDIA BAWEAN

Jumaat, Julai 13

Selamat Menyambut Ramadhan




Ramadhan adalah bulan yang mulia yang padanya ada kebaikan dan keberkatan. Allah dan Rasul r telah menjelaskan kelebihan bulan ini, antaranya :

1. Bulan yang diturunkan padanya Al-Quran :

Allah berfirman :

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْه ﴾ ﴿

Maksudnya : ” Bulan ramadhan, bulan yang diturunkan padanya (permulaan) Al-Quran sebagai
petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeza (antara haq dan
batil), barang siapa antara kamu yang hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah
dia berpuasa pada bulan itu..” [Al-Baqarah : 185]

2. Bulan yang padanya ada Lailatul Qadr :

Allah berfirman :

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ ﴾ ﴿

Maksudnya : ” Sesungguhnya, kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada lailatul qadr. Dan tahukah kamu apakah lailatul qadr itu? Lailatul Qadr itu adalah lebih baik dari seribu bulan ” [Al-Qadr : 1-3]

3. Bulan yang padanya dibelenggu syaitan, dibuka pintu-pintu syurga, ditutup pintu-pintu neraka

Nabi r bersabda :

[ إذا جاء رمضان ؛ فتحت أبواب الجنة، وغلقت أبواب النيران، وصفدت الشياطين ]

Maksudnya : ” Apabila tiba ramadhan; telah dibuka pintu-pintu syurga, telah ditutup pintu-pintu neraka dan dibelenggu syaitan-syaitan ” [HR Al-Bukhari : 3277, Muslim : 1079]

C. KELEBIHAN BERPUASA DI BULAN RAMADHAN

1. Puasa di Ramadhan menjanjikan pengampunan dosa :

Nabi r bersabda :

[ من صام رمضان إيمانا و احتسابا، غفر له ما تقدم من ذنبه ]

Maksudnya : ” Barang sesiapa yang yang berpuasa ramadhan kerana didorong oleh iman dan
mengharapkan keredhaan Allah, maka diampunkan baginya dosa-dosanya yang lalu ” [HR Al-Bukhari : 38, Muslim : 175]

2. Puasa di Ramadhan menjanjikan syurga :

Nabi r bersabda :

[ من آمن بالله وبرسوله وأقام الصلاة وصام رمضان كان حقا على الله أن يدخله الجنة ]

Maksudnya : ” Barang siapa yang beriman dengan Allah dan Rasul-Nya, dan mendirikan solat, dan
berpuasa di bulan ramadhan, maka telah layak baginya untuk dimasukkan oleh Allah ke dalam syuga “
[HR Al-Bukhari : 2637]

Rabu, Mei 23

Rapat PBM Demi Bersatunya Masyarakat BAWEAN

Datuk Abdul Azez bin Sattar atau lebih dikenal sebagai Aziz Sattar (lahir di Bawean, 8 Agustus 1925; umur 86 tahun) merupakan salah seorang seniman serba bisa Malaysia. Ia berkecimpung di bidang seni sebagai aktor, sutradara, pelawak, dan penulis skenario sepanjang kariernya. Kisah hidup Aziz di Tanah Melayu bermula ketika berusia tiga tahun, ketika ia mengikuti ayahnya Sattar Sawal dan ibunya Satimah Jalal hijrah ke Singapura. Dibesarkan di kampung Pasir Panjang, di situlah ia mempunyai dua kawan akrab yang turut menjadi aktor terkenal - Salleh Kamil dan Shariff Dol. Aziz mendapat pendidikan Sekolah Melayu sampai kelas lima. Ia tidak dapat meneruskan pendidikannya akibat pendudukan Jepang di Malaysia. Pada umur 10 tahun, ia yang merupakan pelawak alamiah mulai menyanyi dan menari dalam perhelatan nikah dan kenduri-kenduri di kampung. Dalam usia awal 20-an, ia menjadi pengemudi truk dengan gaji sebanyak RM150. Pada tahun 1950, ia menjadi anggota Pancaragam Suara Hiburan Keroncong, dan pada bulan September 1951 bekerja di Studio Jalan Ampas, Singapura. Kehidupan Aziz mulai berubah pada tahun 1952 saat diajak dua teman sekampungnya bekerja di studio Malay Film Productions. Pada awalnya, ia sekedar bekerja sebagai penyulih suara. Namun, ia terkejut karena gajinya ketika itu jauh lebih rendah dibandingkan pekerjaannya sebagai sopir truk, hanya RM70 sebulan. Pada tahun 1953, dia dipercaya bermain sebagai tokoh tambahan dalam film Putus Harapan. Ia juga salah satu anggota Kelompok Panca Sitara. Sattar menikah pertama kali dengan Siti Rumina Ahmad dan bercerai, lalu dengan Dayang Sofiah, namun juga berujung pada perceraian. Sattar memiliki 7 orang anak, Ruzaiman, Ruzaidah, Ruzainah, Zainuddin, Dahlia, Dalina, Sandakiah. Pada tanggal 16 Desember 2006, Aziz Sattar menikah dengan Hashimah Delan. Pasangan itu dinikahkan Pendaftar Nikah, Khairuddin Haiyon di Masjid Sultan Abdul Aziz, Shah Alam dengan maskawin RM100.Penghargaan 1981: Filem Komedi Terbaik, Filem Festival Malaysia ke-2. (untuk Penyamun Tarbus) 1990: Ahli Mangku Negara, Agong. 1994: Anugerah Seniman Veteran, Filem Festival Malaysia ke-11. 2000: Menerima "Tokoh Budaya Kolej Burhanuddin Helmi" dari Universiti Kebangsaan Malaysia 2000: Anugerah Seniman Veteran (Lelaki), Anugerah Bintang Popular 2000. 2007: Darjah Panglima Jasa Negara (PJN) untuk memperingati Hari Keputeraan Yang di-Pertuan Agong Tuanku Mizan Zainal Abidin  Diusia Aziz Sattar mengabdikan dirinya sebagai Ketua Persatuan Bawean Malaysia (PBM).  Dalam rangka menjalin silaturrahim serta berdiskusi seputar organisasi, telah diadakan pertemuan seminggu yang lalu di rumah Bendahara PBM (Rahman) di Kampung Pandan Malaysia. Pertemuan dihadiri tokoh asal Pulau Bawean kawasan Suwari dan Kumalasa. Saiful Aiman asal Bawean yang menetap di Malaysia, mengatakan pertemuan tersebut intinya membicarakan bagaiman solusi PMB aktif serta mewarnai kehidupan warga Bawean di Malaysia.  "Tujuan pertemuan agar semua warga atau keturunan asal Pulau Bawean Bawean di Malaysia bisa bersama dan bersatu dalam satu organisiasi Persatuan Bawean Malaysia (PBM),"jelasnya.  Menurutnya warga Pulau Bawean di negeri jiran Malaysia diperkirakan berjumlah 120ribu orang, tidak termasuk keturunan atau anak-anak yang lahir di Malaysia.  Pertemuan sampai larut malam telah mendapatkan kesimpulan, yaitu warga Pulau Bawean di Malaysia akan diundang dalam pertemuan bersama dengan setiap perwakilan desa di Pulau Bawean yang berada di Malaysia akan diwakili 5 atau lebih. (Epung/bst)

Published with Blogger-droid v2.0.4

Rabu, April 11

Amaran Tsunami lagi

Tsunami 2012 Acheh Gempa Bumi. Amaran tsunami april 2011 lantaran gempa bumi di Aceh. Malaysia, singapura thailand dan selatan india turut merasakan gegaran Gempa bumi ini berkekuatan 8.9 skala Selepas gempa bumi dengan kekuatan 8.9 skala richter tadi amaran tsunami turut dikeluarkan untuk di sebahagian pantai barat semenanjung Malaysia, Singapura, Thailand dan Selatan India.


Published with Blogger-droid v2.0.4

Ahad, Mac 25

INTERNET SEPERTI WABAH PENYAKIT

California - Apa yang membuat Anda menghentikan aktivitas online: cokelat, alkohol, atau hubungan intim? Bagi pecandu internet, mereka lebih memilih tidak mendapatkan itu semua ketimbang kehilangan koneksi internet. Sebuah studi yang dihajat University of Maryland menunjukkan, para pecandu internet lebih memilih kehilangan bentuk-bentuk kenikmatan dasar ketimbang harus off-line. Satu dari lima pria dan wanita lebih memilih tidak melakukan hubungan intim ketimbang harus kehilangan kesempatan online untuk jangka waktu yang sama. Peneliti menemukan 83 persen responden menyatakan merelakan fast food kegemarannya ketimbang tak boleh online. Simpulan lain: satu dari tujuh pengopi memilih hidup tanpa kopi, 73 penggemar alkohol lebih memilih meninggalkan alkohol ketimbang harus meninggalkan internet. "Mereka lebih memilih tak mendapatkan cokelat atau kesempatan berhubungan seksual dengan lawan jenis selama setahun ketimbang harus off-line selama setahun," demikian simpulan penelitian.Penelitian dilakukan terhadap 1.000 responden di tiap negara industri anggota G-20 termasuk Inggris dan AS, atau sebanyak 20 ribu responden. Studi itu memancing perdebatan betapa hidup kita saat ini sudah sangat tergantung pada Internet, khususnya media sosial dan ponsel. Menurut prediksi Boston Consulting Group, pada 2016 sekitar 5 persen GDP di negara yang ekonominya paling kuat di dunia itu akan disumbang oleh Internet, atau setara 2,6 triliun poundsterling ( 1 poundsterling setara Rp 14.600). Pada tahun yang sama 3 miliar penduduk dunia akan terkoneksi dengan internet. Saat ini, angka penduduk dunia berakses internet sekitar 1,9 miliar.


Published with Blogger-droid v2.0.4

Selasa, Mac 6

Awas Bahaya Selingkuh


AJARAN agama mana pun di dunia ini, pasti tak ada yang membenarkan perselingkuhan dalam rumah tangga. Begitupun dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat, pasti memandang negatif perselingkuhan, termasuk di negara-negara Barat sekalipun, yang terkenal dengan sekulerisme dan hedonismenya. Pernikahan, benar-benar dianggap sebuah “wadah” yang harus steril dari perselingkuhan, dan kesetiaan menjadi mutlak 100% bagi pasangan suami-istri, tak peduli berapa pun umur pernikahannya, dan bagaimanapun kondisi pernikahannya. Akan tetapi, realitas hidup di masyarakat berkata lain. Tanpa perlu data statistik yang resmi dan valid, kita pasti tahu betapa mudahnya perselingkuhan dalam rumah tangga terjadi di masyarakat kita. Kita tak perlu menonton sinetron, telenovela, atau infotainment di televisi untuk bisa menyaksikan perselingkuhan, karena hal itu bisa kita temukan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan di depan mata kita. Perselingkuhan bisa dilakukan oleh tetangga kita, kerabat kita, saudara kita, teman kita, teman kerja kita, atasan kita, guru/dosen kita, sahabat dekat kita, orang tua kita, saudara kandung kita, atau bahkan kita sendiri. Perselingkuhan, dengan atau tanpa hubungan seks, meskipun jelas-jelas haram menurut agama dan dicap buruk oleh masyarakat, pada kenyataannya begitu mudah untuk ditemukan, bahkan untuk dilakukan. Perselingkuhan pun bukan menjadi monopoli pihak tertentu. Perselingkuhan tak kenal status sosial, tingkat pendidikan, jabatan, bidang profesi, domisili, bahkan gender. Kemajuan media massa dan teknologi semakin memperparah “mewabahnya” perselingkuhan. Istilah SII (selingkuh itu indah) seolah menjadikan perselingkuhan sebagai tren yang populer di masyarakat. Kalau kenyataannya seperti itu, kita jadi bertanya-tanya, ada apa di balik semua ini? Apa yang salah? Dan… siapa yang salah? Dipandang dari sudut agama, maraknya perselingkuhan bisa dianggap sebagai indikasi menipisnya keimanan dan ketakwaan masyarakat kita, yang katanya “masyarakat religius”. Di zaman globalisasi seperti sekarang ini, memang hal-hal yang bersifat religi sering “terbenamkan” oleh hal-hal duniawi. Tapi ternyata, permasalahannya tidak sesederhana itu. Masalah perselingkuhan dalam rumah tangga adalah masalah yang sangat kompleks dan pelik, meski kita “biasa” mendengarnya. Kita harus benar-benar berpikir secara jernih, objektif, proporsional dan bijak dalam melihat masalah ini. Memang ada banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut bisa terjadi. Tapi yang jelas, kita tak bisa “menghakimi” media massa dan teknologi sebagai pihak yang salah. Karena meskipun media massa melalui televisi begitu rajin menyuguhkan acara-acara sinetron, telenovela dan infotainment yang menceritakan tentang perselingkuhan, dan juga koran/tabloid yang juga rajin memuat berita atau cerita tentang perselingkuhan, yang bisa saja menjadi “contoh” dan “inspirasi” yang tidak baik kepada penonton dan pembacanya, tapi media massa hanyalah mengangkat potret masyarakat kita yang sebenarnya, dan bukan didasarkan pada imajinasi semata ataupun sebuah propaganda. Sedangkan teknologi, meskipun menghasilkan HP dengan segala fasilitasnya, dan juga internet dengan segala fasilitasnya yang menjadi booming di masyarakat kita bisa dijadikan “sarana” dan “media” selingkuh yang mudah, cepat, efisien, dan efektif, tapi teknologi hanyalah “alat bantu” manusia. Segala manfaat dan mudaratnya sangat bergantung pada manusia sebagai subjek. Secara simpel tentu saja perselingkuhan dalam rumah tangga berkaitan langsung dengan pasutri yang bersangkutan. Salah satu pihak pasutri yang berselingkuh pastilah dianggap sebagai pihak yang salah. Akan tetapi, tanpa bermaksud “membela” pihak “peselingkuh” tersebut, kita juga harus bisa melihat dan menilai secara objektif dan proporsional apa “latar belakang” dan “penyebab” orang tersebut melakukan perselingkuhan. Kita tak bisa memberi cap “peselingkuh” tersebut sebagai orang bejat, tidak bermoral, atau orang tak beragama. Karena realitanya, tak sedikit “peselingkuh” tersebut termasuk tipe suami/istri yang orang “baik-baik”, cukup taat beribadah, dan bukan tipe orang yang “gatel”, yang senangnya kelayapan dan lihai mencari “mangsa”. Ada banyak “motivasi” dan “latar belakang” pasutri melakukan perselingkuhan, yang sebenarnya hal tersebut merupakan indikator “ketidakberesan” di dalam rumah tangga mereka, walau sekecil apa pun. Berbagai beban, tekanan, dan problem hidup yang menumpuk dan bervariasi yang dialami pasutri di dalam rumah tangga mereka merupakan faktor utama; mulai dari masalah ekonomi, masalah anak, masalah “keluarga besar” (bisa dari keluarga salah satu pihak/malah kedua belah pihak), masalah psikis, komunikasi yang buruk, tempat tinggal terpisah di kota yang berjauhan, masalah pekerjaan, perbedaan status sosial dan pendidikan yang mencolok, perbedaan persepsi dan idealisme yang mencolok, “terjebak” pada rutinitas, kejenuhan, masalah seksual, dan masih banyak lagi. Semua masalah itu membuat rumah tangga pasutri mana pun menjadi rentan perselingkuhan, yang kalau dibiarkan begitu lama dan intens bisa menjadi bom waktu, yang sewaktu-waktu bisa “meledak” dan menghancurkan semua yang telah susah payah dibangun selama ini. Kehadiran WIL (wanita idaman lain) atau PIL (pria idaman lain), baik yang masih single, janda/duda, ataupun sama telah menikah, memang banyak dituding sabagai biang kerok terjadinya perselingkuhan di dalam rumah tangga. Tak sedikit istri yang langsung melabrak wanita selingkuhan suaminya, ataupun suami yang langsung ngamuk kepada pria selingkuhan istrinya, begitu mereka mengetahui perselingkuhan pasangannya. Tapi, benarkah semua “kesalahan” itu harus ditimpakan kepada para WIL atau PIL? Kalau memang rumah tangga mereka “baik-baik” saja, dan pasangan mereka pun “baik-baik” saja, kenapa sampai bisa masuk “orang ketiga” di tengah-tengah mereka? Kita tak bisa langsung memberi cap WIL atau PIL itu sebagai “wanita/pria penggoda”, home broker(perusak rumah tangga orang), orang brengsek, “gatel”, rendahan, tak bermoral, dsb. Karena meskipun banyak WIL atau PIL yang berkarateristik seperti itu, tapi tak sedikit juga WIL atau PIL itu yang orang “baik-baik”, cukup taat beribadah, berpendidikan, dan bukanlah tipe orang yang “liar” atau “binal”. Selain itu, kita juga tak bisa menuduh “motivasi” mereka adalah materi ataupun faktor ekonomi. Karena meskipun banyak WIL atau PIL yang memang pangeretan dan materialistik, yang bisanya hanya memanfaatkan uang atau harta selingkuhannya, tapi tak sedikit pula WIL atau PIL yang “rela” berselingkuh dengan suami atau istri orang lain yang jelas-jelas kere, boke, ataupun miskin. Tapi kenapa mereka mau juga melakukan perselingkuhan itu? Jelas, “motivasi” mereka bukanlah faktor materi. Mungkin bisa jadi mereka sedang mengalami krisis perhatian, kasih sayang, perlindungan, merasa benar-benar “kesepian”, kekosongan, benar-benar butuh “sandaran”, dan “teman berbagi”. Atau bisa jadi juga mereka menaruh suka, simpati, atau malah… jatuh hati. Bagaimana bila ternyata suami atau istri yang berselingkuh itu sama-sama jatuh hati, atau setidaknya sama-sama tertarik dengan WIL ataupun PIL-nya masing-masing? Bukankah itu adalah masalah yang substansial? Tapi… bukankah perasaan “cinta” kepada orang yang bukan “pasangan sah” tidak akan tumbuh subur dan merajalela, apabila kita bisa memupuk dan merawat cinta kepada “pasangan sah” kita? Dan itu tentu saja harus dilakukan oleh kedua belah pihak, bukan hanya salah satu pihak. Kesetiaan, kepercayaan, kejujuran, dan keterbukaan benar-benar harus menjadi “pilar” yang kokoh dalam berumah tangga, dan dilakukan oleh pasangan suami istri atas dasar keikhlasan, bukan karena “keharusan” dan “keterpaksaan” semata-mata. Letak permasalahan topik ini bukan pada “siapa yang salah”, karena hal tersebut justru akan menjadi polemik yang berkepanjangan dan tak ada titik temu. Yang terpenting dalam masalah ini adalah, apa penyebab dan latar belakang terjadinya perselingkuhan dalam rumah tangga tersebut, dan bagaimana solusi terbaik untuk menyelesaikannya, yang dilakukan oleh pasangan suami istri yang bersangkutan dan juga WIL/PIL-nya masing-masing, karena yang paling tahu persis permasalahannya dan yang mengalaminya langsung adalah mereka sendiri. Seperti apa pun solusi yang mereka tempuh, atau seperti apa pun ending dari perselingkuhan tersebut, sepatutnyalah dilakukan dengan cara-cara yang bijak, dewasa, bermartabat dan untuk kebaikan semua. Bukan dengan cara-cara yang barbar, kekanak-kanakan, arogan, dan egoistis. Jangan sampai masalah perselingkuhan yang merupakan masalah “besar” dalam rumah tangga, menjadi semakin “besar” dan “melebar” ke mana-mana, yang pada akhirnya bukan hanya aib kita yang terekspos kepada umum, tapi juga masalah “inti”-nya tidak akan terselesaikan, dan justru akan menyebabkan kehancuran, yang semakin menambah penderitaan, luka, dan air mata.***

Share |

Buku Cerita Bawean